Cinderella, Anna dan Elsa; Menikah Buru-Buru atau Mengenal Baik-Baik Lebih Dulu?

 

Cinderella

Cinderella, gadis malang yang disiksa oleh Ibu tiri dan dua saudara tirinya. Bertemu dengan Pangeran di pesta dansa yang diadakan kerajaan.  Pangeran jatuh cinta pada pandangan pertama, Cinderella pun sama. Mereka berdansa, tatap-tatapan. Sayang, Cinderella harus pulang sebelum jam 12, atau efek mantra habis dan Ia kembali menjadi upik abu. Cinderella berlari tanpa bisa dikejar Pangeran. Pangeran depressed, Ia mencari Cinderella dari rumah ke rumah, membawa sepatu kaca yang tertinggal di istana. Pangeran yakin, Cinderella lah cinta dan jodohnya. Di ujung cerita, Cinderella ditemukan, menikah dengan pangeran dan hidup bahagia selama-lamanya. Happy ending!

Jaman kecil nonton Cinderella senang-senang saja. Tanpa bertanya, “Raja dan Ratu setuju saja ya anaknya menikah bukan dengan putri kerajaan lain?” Lalu, “ Mereka benar hidup bahagia selama-lamanya? Kok ceritanya berhenti di pesta pernikahan?” “Bagaimana kehidupan Cinderella dan Pangeran setelah menikah? Kok ndak ada Cinderella Jilid 2?” “Mereka baru kenal. Ketemu hanya sekali. Cinta bagaimana yang mereka punya? Cinta karena fisik dan tampilan luar saja?”

Treengg. Pernikahan seakan-akan dibuat menjadi jawaban permasalahan dan satu-satunya tujuan hidup yang membuat tokoh utama bahagia selama-lamanya. Dan, tak apa menikahi orang yang baru dikenal. Setelah menikah, hidup pasti akan bahagia. Sepertinya pesan itu yang akhirnya tertangkap.

Dan bukan hanya Cinderella, dongeng-dongeng klasik seperti Little Mermaid, Sleeping Beauty, pun sama. Si putri cantik bertemu, jatuh cinta pada pandang pertama, lalu menikah dengan pangeran penyelamat yang baru saja dikenalnya.  Dan hidup bahagia selama-lamanya. Hufh.

Lalu, yang baru saya sadari, ada Elsa Frozen yang berbeda dari kakak-kakak seniornya. Putri yang kuat, mentally, physically. Tak ada drama-drama jatuh cinta pada temu pertama. Elsa yang anggun, tegar dan berani, menciptakan bahagia untuk rakyatnya. Konflik menarik tentang cinta justru datang dari Anna yang jatuh cinta pada Hans lalu tiba-tiba meminta ijin menikah pada Elsa.

Jelas Elsa tak mengijinkan. Perempuan tangguh yang lama mengontrol dirinya karena kekuatannya yang berbahaya jika marah, ia yang berpikiran logis dan waras, berkata ke Anna, “ You can’t marry a man you just met!” Voila!

Kristoff, cowok lain kawan Anna juga tak setuju. Ia bertanya ke Anna; nama belakang Hans, warna matanya, menginterogasi Anna yang dibutakan cinta. Anna tak tahu. Hal-hal kecil tentang Hans, apalah lagi yang lainnya.

Di akhir film, terbuktilah Hans tak sebaik yang terlihat. Ia berpura-pura jatuh hati untuk Anna yang cepat luluh. “You were so desperate for love. You’re willing to marry me just like that”. Bagian ini dramatis sekali, Anna yang kesakitan disakiti lagi hatinya oleh Hans yang omongannya emang bener 😀 . Perih kakak. Ya syukurnya mereka belum menikah. Dan Anna masih sempat menonjok Hans. Yeay!

Well, alur hidup memang tak serupa cerita dongeng-dongeng Disney. Tapi, kita bisa belajar dari cerita dan peristiwa. Saya memilih belajar dari Elsa dan Anna. Soal cinta dan pernikahan, nikah adalah hal yang penting. Sangat, dan sakral. Seumur hidup. Mengenal dengan baiklah lebih dulu.

Banyak yang menyesal karena kaget dan tak mampu menerima kebiasaan pasangan, wong kenal dan ketemunya sekali atau beberapa kali. Bisa jadi memutuskan menikah karena perasaan sesaat atau desperate seperti Anna. Pun yang merasa bahwa solusi semua masalah dalam hidup adalah menikah lalu bahagia selama-lamanya. Tak jarang saya mendengar, “Saya pikir setelah menikah masalah saya akan selesai. Akan ada yang jadi tempat bersandar. Ternyata, saya salah.”

Menulis ini akan terduga membela diri karena sampai sekarang sayapun belum menikah. Justru saya bersyukur, Allah memberi waktu saya untuk paham dan belajar hal yang sama sekali tak ada dalam pikiran saya 7 tahun lalu ketika merasa lelah bekerja dan ingin nikah saja. Waktu itu ada seorang (almarhumah) ibu baik hati yang ingin menjodohkan saya dengan anak pertamanya. Mapan. Sedang kuliah S2 katanya. Kabar itu sudah beliau sampaikan ke beberapa orang terdekatnya. Qadarullah, saya harus ke Malang, saya mendapat beasiswa S2. Perjodohan itu berhenti sebelum benar-benar dimulai. Saya tidak tau akan sebuta apa saya berumah tangga jika Allah takdirkan saya menikah sangat muda.

Lalu sekarang saya bertanya-tanya, berapa banyak perempuan yang bermimpi menjadi layaknya Cinderella, bertemu pangeran, sesaat setelahnya menikah, hidup jadi putri raja bahagia selama-lamanya? Atau desperate layaknya Anna. Emmm atau masih ada kah?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *