Tukang Parkir Baik Hati

Sebuah foto pria berusia kurang lebih 30-an dengan caption “Tukang parkir teladan yang berhati mutiara telah pergi. Semoga akhlak beliau menjadi teladan bagi para tukang parkir lainnya di Palu” diunggah oleh teman saya kemarin, 19 Desember 2018 di dinding akun Facebook nya.

Innalillahi waa innailaihi roji’un. Saya tidak mengenali tukang parkir itu. Saya mencari profil beliau karena ada nama akun ter-tag di foto tadi. Penasaran. Dan muncul beberapa postingan serupa. Ma syaa Allah. Saya membaca komentar-komentar duka atas kepergian alamarhum. Betapa semua tentang kebaikan beliau.

Puluhan komentar di postingan-postingan yang merasa kehilangan beliau.

“Tukang parkir yang ramah dan baik hati”

“Tukang parkir yang sering bercanda, setiap pulang makan bakso pasti dibuat tertawa oleh beliau”

“Tukang parkir paling ramah. Semoga husnul khatimah”

Ma syaa Allah. Begitu baiknya almarhum semasa hidupnya. Meskipun saya tidak mengenal beliau (karena saya bukan penggemar bakso, FYI; beliau markir di warung bakso), tapi mampu merasakan keramahan dan kebaikan hatinya pada siapapun.

Benar. Bahwa kau menjadi mulia bukan karena harta, jabatan, dan tahta. Bukan hanya kau punya segalanya yang tak banyak orang lain punya. Kau menjadi mulia karena rasa kemanusiaan mu yang mampu menghargai, menyayangi dan memanusiakan manusia lainnya. Tak akan mati kebaikan yang kau simpan pada hidup orang lain, meskipun jasadmu pergi.

Almarhum mungkin tak baca quote ini, tapi beliau melakukannya dengan sangat baik di tiap hari kerja sebagai tukang parkir. Pekerjaan yang tak perlu ijazah, tak perlu pendidikan tinggi, tapi beliau dengan tulusnya mampu menyentuh hati dan meninggalkan kebaikan di hidup orang lain. Gaji yang tak ternilai dengan angka saja.

Treat everyone with respect and kindness. No exceptions. –Kiana Tom

Terima kasih, Pak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *