Tentang Anak Perempuan Bernama Lala

Pagi itu seperti beberapa pekan yang sudah-sudah. Saya dan dua teman saya berada di lingkaran kecil bersama murid-murid kelas 6 dalam program Pendidikan Pasca Bencana. Kami menjadi fasilitator kelompok Handcraft ( Masih ada tiga kelompok lainnya; moving, drawing dan story telling). Kami mengajarkan murid-murid membuat jaring laba-laba dari stik es krim dan benang wol. Ada 27 murid kelas 6 yang kami bagi ke tiga kelompok.

Tapi, ada sesuatu yang beda pada hari itu. Sesuatu yang memberi saya rasa yang tidak mampu saya jelaskan. Rasa yang membuat saya pulang dalam keadaan hati yang seperti bertambah lapangnya.

Ketika murid-murid sedang asik membuat jaring laba-laba. Seorang teman fasilitator dari kelompok ‘moving’ datang menghampiri saya.

“Kak, titip adik ini ya. Dia tidak bisa ikut bermain dengan kami” Katanya pelan sambil merangkul anak perempuan berkerudung bermata bening namun lesu. Tak ada senyum di wajahnya.

“Ok. Sini dek.” Saya mengambil tangan anak itu, Ia lalu duduk di sebelah saya. Teman saya kembali ke lapangan, ke kelompok ‘moving’.

“Namanya siapa, dek?” Saya bertanya pelan. Sebut saja namanya Lala. Lala kelas 4.

“Kenapa ndak bisa ikut main, sayang?” Saya berharap jawabannya hanya sedang sakit biasa. Belum fit.

“Saya epilepsi.” Jawabnya lemah, tapi masih jelas terdengar. Saya diam sejenak. Menarik nafas yang dalam.

“Lala mau buat jaring laba-laba kayak mereka? Saya senyum menatap nya. Seperti yang biasa saya lakukan ke anak-anak lain. Saya lalu memintanya memilih warna benang wol, lalu menunjukkan bagaimana caranya. Sama seperti kebanyakan anak, agak bingung di awalnya, tapi kemudian bisa mengikuti caranya. Rupanya Lala adalah adik dari salah satu murid laki-laki kelas 6 di kelompok saya, saya bertanya apakah mereka sering bertengkar, siapa yang sering menangis, dan berlagak menegur kakaknya. Lala ketawa, meski malu-malu dan sebentar saja.

Lala, dengan jari-jarinya yang lemah dan gemetar melilit-lilit benang terus berusaha. Sesekali ia memanggil saya, memastikan apakah caranya sudah benar. Tak ada gumaman excited khas anak kecil ketika caranya benar, tapi tanpa henti, ia terus melanjutkan pekerjaan tangannya. Saya terdiam memperhatikan ringkihnya jari-jari kecil itu. Sangat pelan Lala memutar-mutar benangnya.

Sampai waktu usai, Lala masih terus melanjutkan dalam diam dan tenangnya. Beberapa anak lain pun sama, asik meneruskan dalam gumaman dan pekikan senang karena berhasil. Kami menyudahi kelompok kecil dan bergabung di kelompok besar di lapangan. Ketika saya, teman-teman lain dan murid-murid berkumpul di lapangan untuk menutup kegiatan. Ia menghampiri lagi dari belakang saya, meminta tolong merapikan jaring laba-labanya.

“Kak, potongkan benangnya.” Ucapnya lemah, masih tanpa senyum.

“Sini ayo La. Kita duduk di sana.” Kami berjalan ke depan kelas yang teduh. Saya merapikan jaring laba-labanya. Hasil pekerjaan tangannya sangat rapi. Lalu, Ia pamit kembali ke kelasnya setelah kami bersalaman, dan saya menanyakan apakah boleh datang lagi.

Lala. Rasanya ingin lebih lama mendengarmu bercerita apa saja tentang dunia anak-anak. Rasanya ingin menjadi teman dalam sunyimu. Rasanya ingin menjadi kakak yang bisa membantumu berdiri kuat dan bahagia menghadapi dunia.

Dalam perjalanan pulang, saya bersyukur Allah memilih saya untuk ‘dititipi’ Lala oleh teman saya. Saya berterima kasih Allah memberi saya hadiah berharga, sebuah perkenalan singkat dengan Lala. Kakak bahagia bisa jadi teman Lala. Sampai jumpa, Lala.

 

Meskipun terlambat memulai, Lala tetap berusaha menyelesaikan kreasinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *