Percaya dan Biarkan Anak Menemukan Jawabannya Sendiri

Bismillahirrahmanirrahiim

Pekan ini saya memposting Prinsip ke tiga dari Sembilan dalam perjalanan menjadi orangtua dalam buku Becoming The Parent You Want To Be by Laura Davis dan Janis Keyser. Setelah prinsip ke dua di post sebelumnya adalah Kenali dan Pahami Anak Kita.

Langsung saja, prinsip Ke tiga adalah,

Mempercayai anak dan membiarkan mereka menemukan jawaban sendiri adalah dua hadiah terindah yang orangtua bisa berikan untuk anak.

 

Bayi dan balita secara natural diarahkan untuk melewati tahapan-tahapan perkembangan pentingnya. Anak usia pra sekolah/ playgroup, secara umum termotivasi dan mereka juga secara sadar memiliki goals ( tujuan ) untuk diri mereka sendiri. Mereka mau belajar bemain bersama teman, mengancingi jaket, mengendarai sepeda, tapi mereka tidak tahu begitu saja kalua mereka akan berhasil. Biasanya, mereka akan merasa tertekan karena kepercayaan diri yang minim. Optimisme dan kepercayaan diri orangtualah yang akan menjembatani usaha dan keberhasilan anak.

 

Membuktikan Kesalahan Anak

Kebanyakan dari orangtua, meski bermaksud baik, cenderung menakut-nakuti bukan meyakinkan anak. Dalam jangka panjang, konsekuensi dari sikap ini membahayakan  kepercayaan diri dan perkembangan emosional anak.

 

Apa yang Sesungguhnya Kita Katakan Ke Anak

Mari melihat apa yang kita sampaikan ke anak ketika kita membuktikan kesalahan mereka.

 

Ketika kita mengatakan: “ Mama/ Papa kan udah bilang !”

Kita sedang menyampaikan: Mama/Papa selalu benar

 

Ketika kita mengatakan: “Kau tidak pernah merapikan mainanmu.”

Kita sedang menyampaikan: “Saya takut kau tidak akan belajar tentang ini. Saya takut gagal mengajarimu. Saya sudah putus asa.”

 

Ketika kita mengatakan: “Jangan lakukan itu, kau akan gagal.”

Kita sedang menyampaikan: “Saya tidak mempercayaimu. Saya tidak yakin kau bisa memanjat. Tidak aman untuk aktif bergerak.”

 

Ketika kita mengatakan: “Mama/Papa sudah bilang berkali-kali kalau kau harus menyimpan mainanmu”

Kita sedang menyampaikan: “Kau sudah pernah gagal, dan mama/papa takut kau gagal lagi.”

Ketika kita mengatakan: “ Kau malas. ( bodoh, lambat )

Kita sedang menyampaikan: “Mama/papa tak menghargaimu. Cinta kami bersyarat. Hanya jika kau melakukan apa yang kami mau kau lakukan.”

 

photo was taken here

 

Apa yang terjadi ketika orangtua meruntuhkan keberhasilan dan kompetensi anak? Mereka akan belajar bahwa satu satunya keputusan yang dapat dipercaya ada di luar dirinya, pada orangtua nya atau orang lain. Mereka akan meragukan dirinya, tidak mampu membuat keputusan, takut mencoba hal baru; mereka akan belajar tidak percaya pada persepsi mereka sendiri.

 

Alternatif untuk “Membuktikan Kesalahan Anak”

  • Hargai usaha anak meskipun mereka belum berhasil. Orangtua bisa berkata, “ Mama melihat usahamu untuk menaiki tangga itu “ atau “Kau sudah berusaha mengikat tali sepatumu”.
  • Anak telah melakukan usaha terbaiknya. Jika mereka belum berhasil, orangtua bisa menyesuaikan ekspektasi, dan bersama-sama mencari solusi.
  • Berusaha bersama-sama anak untuk menyelesaikan masalah dibandingkan menyalahkan mereka karena belum berhasil. Dari umur tiga tahun, orangtua bisa berkata kepada anak, “Nampaknya sulit bagimu untuk membereskan mainan, dan kita harus memebereskannya sebelum makan malam. Bagaimana menurutmu, apa yang harus kita lakukan, nak?”
  • Berikan anak informasi dan hargai keinginan mereka untuk mencoba sesuatu. Mendorong keberhasilan anak dengan mempercayai kemampuan mereka. “ Apel itu ada di dahan yang tinggi, dan ada dahan yang tidak kuat di atas sana. Ketika kau memanjat, carilah dahan yang kuat. Panjatlah setinggi kau merasa aman, dan turunlah setelah itu.”
  • Sediakan ‘sarang’ yang aman. Daripada memaksa anak untuk memakai jaket, orangtua bisa berkata: “Mama tahu kau belum merasa kedinginan sekarang, tapi mama memasukkan jaket di tas mu, siapa tau kau merasa kedinginan nanti.”
  • Dukung keyakinan dan kegigihan anak. Perhatikan usaha anak. “ Kau sudah berlatih seharian. Nampaknya kau berusaha sangat keras sepanjang pagi ini. Kau betul-betul ingin berhasil renang gaya bebas. Kau hampir berhasil!”
  • Intervensi yang selektif. Terkadang, hal terbaik adalah menyerahkannya pada waktu. Sherman menjelaskan, “ “ Hal besar bagi orangtua adalah belajar kapan harus mengamati dari ring luar. Saya belajar tidak ikut campur pada beberapa hal. Hanya jika hal itu beresiko tinggi, selebihnya saya hanya mengamati.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *