#2 Visi Dalam Keluarga; Teaching Your Kids to Learn Values

 

Bismillahirrahmanirrahiim,

Ada enam bagian dalam buku ini, yang terbagi ke dalam dua puluh delapan chapters.

Enam itu adalah; (1)Sembilan Prinsip Dalam Perjalanan Menjadi Orangua, (2)Perasaan Anak, (3)Tubuh Anak, (4)Menghadapi Kebiasaan Anak, (5)Bermain dan Belajar Di Lingkungan Sosial, dan (6)Hubungan Dalam Keluarga – di buku ini,  yang terbagi lagi dalam dua puluh tujuh bab.

 

Memulai dari bagian pertama,  Perjalanan Menjadi Orangtua; Kerangka Dasar, Sembilan Prinsip;

  1. Visi Keluarga
  2. Mempelajari Anak
  3. Melatih Semangat Optimisme Anak
  4. Memahami Bahwa Orangtua pun Belajar, Bertumbuh
  5. Belajar Percaya Pada Perjuangan dan Ketidakseimbangan
  6. Bergerak Menyeimbangkan Kebutuhan
  7. Mengajarkan Anak Untuk Merasa Aman, Kuat dan Baik Terhadap Dunia Mereka
  8. Tetap Menjadi Manusia yang Sadar: Ketika Kau Bukan Orangtua Yang Kau Impikan
  9. Membangun Komunitas Pendukung

 

Prinsip pertama,  “Tentukan dan Kembangkan Visi Dalam Keluarga”

Adalah penting untuk punya visi akan jadi orangtua seperti apa sepanjang perjalanan nanti.

Kita pasti mempunyai harapan terhadap anak-anak, keluarga dan bahkan diri kita sendiri sebagai orangtua. Itulah visi kita.

Nanti, dengan pengalaman-pengalaman yang akan kita dapati, visi tadi bisa berlanjut dan semakin jelas. Sudut pandang berganti, nilai-nilai berubah, dan pemahaman kita semakin dalam.

Di permulaan kelas parenting nya, Janis meminta tiap orang untuk mengurutkan tiga hal terpenting yang mau mereka ajarkan kepada anak-anak mereka. Janis menulis jawaban para orangtua di papan;

  • Saya ingin anak saya selalu bahagia dan merasa dicintai tak peduli apapun yang terjadi
  • Saya ingin selalu bersama anak saya dan memiliki hubungan yang akrab
  • Saya ingin menjadi orangtua yang bisa menjadi tempat anak bercerita
  • Saya ingin mengajari anak saya untuk membuat perubahan
  • Saya ingin memberikan anak saya banyak hal yang tak pernah saya miliki

Menentukan visi sangat penting bagi kesehatan keluarga, jasmani dan rohani. Kita membuat visi hari ini untuk membangunnya di perjalanan menuju masa depan.

 

Memahami Nilai. Apa Yang Ingin Saya Ajarkan?

Sebagai orangtua, kita adalah guru pertama dan utama anak. Apa yang kita ajarkan dan bagaimana cara kita mengajar memiliki dampak yang signifikan untuk masa depan anak.

Kita menyerap nilai dari sejarah keluarga, perspektif budaya dan pengalaman hidup. Dan kebanyakan terserap pada masa kanak-kanak.

Menjadi orangtua, membawa kita menemukan nilai-nilai yang sebelumnya kita anggap tak penting atau yang kita yakini, tapi tak bisa tersampaikan ke anak. Kita jadi menghargai nilai-nilai hubungan dengan anak yang tak ada pada saat masih sendirii. Ini adalah salah satu masa transformasi ketika menjadi orangtua.

 

Bagaimana Anak Belajar Nilai-Nilai?

Sesungguhnya, setiap interaksi dengan anak adalah kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai.

5 cara mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada anak yang diuraikan buku ini;

  1. Anak mempelajari nilai-nilai kebaikan melalu interaksi harian dengan orangtua.

Kadang, orangtua berpikir mengajarkan nilai agama ke anak, nanti jika beribadah ke rumah ibadah, atau dalam waktu khusus berdua dengan anak. Padahal, orangtua dapat mengajarkan anak dalam aktivitas sehari-hari.

  1. Anak belajar melalui contoh.

Seorang Ayah, Cully, menceritakan, “ Putraku melihatku memungut sampah di jalan dan dia bertanya, “Siapa yang membuangnya?” Saya menjawab, “Ayah tak tahu. Tapi sampahnya ada di bumi yang kita tinggali. Jadi, Ayah mengangkatnya.”

Leah, seorang pengasuh anak-anak dari keluarga yang bermasalah, mengatakan, “ Saya melakukan ini karena saya tahu apa yang saya lakukan akan membawa perubahan. Saya tak dapat memperbaiki karakter orangtuanya. Saya tak bisa memperbaiki masyarakat. Tapi, bagi saya, mencintai satu anak orang lain pun cukup. Meski mereka ada di rumah saya hanya sekitar dua belas jam, mereka telah memiliki dua belas jam melihat dan merasakan bagaimana cinta dalam keluarga. Mereka melihat anggota keluarga saling menghormati. Mereka belajar, bahwa hal-hal baik itu ada, dan terjadi.  Saya pun bahagia, melihat anak kandung saya belajar dari apa yang saya lakukan.

“ Anak-anak saya sangat senang menyambut anak-anak asuh ini. Mereka bersemangat ikut ke panti untuk menjemput anak-anak asuh denganku. Emma, putri 5 tahunku, duta kecilku. Dia akan menjemput anak-anak asuh itu di pintu, dan menggandeng tangan mereka. Dan dia akan berkata, “ Kau tak perlu takut. Tak apa jika kau mengekspresikan perasaanmu di sini, tak apa jika kau marah, kami di sini berlarian sambal memukul dengan bantal dan berteriak, tapi kau tak boleh saling memukul sungguhan dan menyakiti. Tak ada yang akan menyakitimu di sini. Ini kamarku. Di sini tempatmu tidur. Ini tempat pribadimu.”

  1. Anak belajar melalui nilai-nilai yang terus kita perlihatkan.

Benar jika anak belajar dari apa yang kita lakukan, tapi tidak menjadi sepenuhnya benar bahwa kita harus benar-benar mengerjakan kebaikan sebelum kita mengajarkannya kepada anak. Kita pun bisa sambil belajar bersama anak. Orangtua membawa nilai-nilai yang Ia yakini sejak masa kecil dan keluarga sebelumnya. Bersamaan, pun kebanyakan kita akan menyerap dan mempelajari nilai-nilai yang belum kita praktekkan dan integrasikan dalam keluarga.

4. Anak belajar nilai-nilai melalui aktivitas dalam keluarga.

Kathleen berbagi bagaimana Ia menanamkan nilai-nilai dalam keluarga: “Sekali dalam seminggu, di sore hari, kami duduk bersama dan berbincang tentang hal-hal yang kami sukai tentang keluarga kami. Kami bermain, bernyanyi, dan membuat sesuatu. Waktu ketika tak ada janji lain. Saya sangat menyukai momen ini. Ini mengajarkan kami bahwa keluarga adalah prioritas.

5. Anak belajar nilai-nilai melalui penjelasan kita tentang dunia.

Kita tidak bisa selalu mengontrol dengan siapa anak berinteraksi. Kita tidak bisa selalu mengontrol dunianya. Meskipun kita tidak bisa 24 jam mengontrol lingkungan anak, kita bisa membantu mereka untuk melihat banyak hal dengan mengarahkannya dengan berbagi pikiran.

 

Di post selanjutnya, in syaa Allah dilanjutkan prinsip ke dua.

(Sumber tulisan: Becoming The Parent You Want To Be by Laura Davis and Janis Keyser) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *