Menggemakan Mimpi dan Harapan #2 – R

Nama saya R. Saya berasal dari desa kecil 30 KM dari kabupaten Toli-Toli. Saya terlahir di keluarga yang kurang mampu. Ayah saya, K dan Ibu saya H. Saya tiga bersaudara. Kami perempuan semuanya. Sekarang saya tinggal jauh dari keluarga. Saya merantau ke Palu dan ngekost dengan teman sekampung, untuk kuliah.

Saya ingin bercerita sedikit tentang perjalanan saya memulai untuk kuliah beberapa bulan lalu. Saya lulus SMA tahun 2016. Mesti menunda setahun untuk bisa lanjut ke perguruan tinggi. Apalagi kalau bukan terkendala biaya masuk kuliah. Kondisi ekonomi kedua orangtua saya membuat saya terpaksa menerima keadaan dengan pasrah, waktu itu. Tapi, saya tidak mau berlama-lama tak melakukan sesuatu. Saya ingin berusaha semampu saya. Akhirnya saya meminta ijin kedua orangtua untuk berangkat ke kota. Saya ingin bekerja. Saya ingin mencari uang untuk masuk kuliah. Saya berpamitan. Ibu saya Alhamdulillah mengijinkan.

Saya diterima bekerja di salah satu toko pakaian di pertokoan kota. Alhamdulillah. Saya melayani pembeli, kadang pun saya ngepel, cuci piring dan menjaga anak bos. Saya bisa melakukan itu semua. Sampai tidak terasa hampir setahun saya bekerja. Satu hari, salah satu teman saya yang kuliah di Toli-Toli datang berbelanja di toko saya bekerja. Dalam hati, saya iri. Sangat iri. Saya sangat ingin kuliah dengan keterbatasan ekonomi dan keadaan orangtua yang sudah tua dan sakit-sakitan, saya bisa apa? Saya pun tak tega memaksakan mimpi untuk kuliah. Uang upah kerjapun saya sisihkan untuk dikirim ke orangtua di kampung. Juga untuk uang jajan adikku satu-satunya.

Ternyata, keinginan itu tidak bisa hilang begitu saja. Saya melihat info di Koran, kalau kampus-kampus telah membuka pendaftaran mahasiswa baru. Niat itu masih ada. Kali ini dengan tekad. Saya ingin kuliah. Saya memutuskan untuk pulang sebentar ke kampung. Saya ingin menyampaikan niat ini kepada kedua orangtua saya.

“Ma’. Pa’. Saya mau ke Palu. Saya mau kuliah di sana.” Saya menyampaikan ini kepada mereka.

“Nak. Mama’ sama Papa’ tidak punya uang untuk kuliahkan kau nak. Papa’ sudah tua, sudah ndak mampu kerja. Kita juga ndak punya apa-apa yang bisa diharapkan. Kebun juga ndak ada.” Mama’ saya menjawab keinginan saya, sambil menahan air matanya.

“Ma’. Jangan khawatir. Saya punya sedikit tabungan hasil kerja di kota. Mama’ jangan terlalu pikirkan saya. Mama’ ingat adik saja. Urus adik.” Saya ingin menenangkan mama saya.

“Tapi, nak. Kuliah itu susah. Butuh uang banyak. Mungkin kau belum mengeluh sekarang. Nanti, satu, dua bulan lagi.” Saya tidak bisa menyalahkan nasehat mama saya. Ketakutan untuk anaknya.

“Ndak apa-apa, Ma’. Nanti saya cari kerja sampingan. Yang bisa gantian. In syaa Allah ada.” Saya terus meyakinkan beliau.

“Ya sudah, Nak. Kalau itu maumu. Hati-hati di sana. Jaga diri baik-baik. Mama’ tidak bisa kasih apa-apa.” Mama’ saya akhirnya luluh.

 

 

**************************************************

 

Dua hari kemudian, saya nekat berangkat ke Palu. Ditemani teman sekampung yang lebih dulu kuliah, saya mengambil formulir pendaftaran di salah satu kampus negeri. Oh iya, saya juga menumpang di kost teman saya ini. Biaya registrasi dua ratus ribu. Uang upah saya Alhamdulillah saya bisa gunakan untuk mendaftar kuliah. Saya mengisi formulir dan langsung mengembalikannya. Besoknya, saya ikut ujian masuk. Sambil menunggu hasilnya, saya pulang kampung. Saya kembali bekerja di toko pakaian. Sampai akhirnya teman saya di kampus tujuan saya mengabarkan kalau saya harus ke Palu untuk mengikuti tes wawancara. Saya ke kampung, untuk berpamitan lagi. Tiga hari di kampung, dengan berat hati saya harus pergi demi mimpi saya, meski harus meninggalkan Mama yang sedang sakit.

Bismillah. Dengan uang satu juta rupiah saya berangkat. Di luar dugaan saya, uang itu tidak cukup untuk bayar SPP. Kata teman saya, “ Tidak ada SPP yang satu juta. Adanya satu juta lima ratus”. Malam itu saya menangis. Saya menangisi hidup saya yang miris. Rasanya sedih sekali. Dengan sisa-sisa optimis, saya tetap pergi ke kampus untuk wawancara.

Ketika diwawancara, saya menjawab apa adanya. Tentang kehidupan ekonomi keluarga saya. Saya masih ingat Ibu yang mewawancarai saya bertanya seputar kehidupan saya. Ayah yang tidak bekerja karena lanjut usia. Ibu yang sering sakit.

“Kamu peringkat 10 besar di sekolah?” Ibu itu bertanya

“Iya, Bu.” Jawab saya.

Dari penjelasan Ibu itu, saya tidak bisa dimasukkan ke penerima bidik misi. Saya didaftarkan di jalur SPP empat ratus ribu/semester.Saya sangat bersyukur dimudahkan. Alhamdulillah. Sambil menunggu perkuliahan dimulai, saya pulang ke kampung sementara, sambil masih bekerja kembali.

Perkuliahan pun dimulai. Saya sangat senang. Saya akhirnya bisa kuliah. Hal yang sangat saya impi-impikan. Sebulan. Dua bulan. Kata-kata Mama saya mulai terngiang kembali. Saya kehabisan uang. Tugas kampus, uang makan, tabungan saya yang tak seberapa habis sudah. Saya menelpon kakak di kampung. Dan jawabannya,

“Kan sudah dibilang, dek. Tidak usah kuliah! Kau terlalu memaksa. Orangtua sakit. Saya juga tidak bisa bantu. Sudahlah! Kau berhenti kuliah saja!”

Saya menangis. “ Kak, saya mau tetap kuliah. Supaya nasib keluarga kita bisa berubah. Supaya kita jadi orang.”

“Iya. Tapi, ingat kondisi orangtua!” Itu jawabannya. Telepon ditutup.

Yaa Allah. Miris sekali hidup saya. Saya ingin menangis kuat-kuat. Saya ingin bercerita tapi pada siapa. Uang kos saya sudah menunggak. Ibu kos sudah menagih. Stok makanan pun tidak ada. Tugas kuliah, makalah lagi banyak-banyaknya. Seribu rupiah pun saya tidak punya. Saya hanya bisa menangis sendiri di dalam kamar. Kadang seharian saya tidak makan. Mau pinjam uang teman, saya malu. Kadang, saya ‘numpang’ makan sama teman, dengan menahan rasa sedih dan malu. Saya sudah berusaha cari kerja, tapi belum ada yang menerima mahasiswa. Lalu, telepon dari kampung pun bilang kalau Mama sakit, masuk rumah sakit. Yaa Allah, cobaan apa ini.

Saya disuruh pulang, tapi uang tak ada. Terlintas ingin pulang, meski sedang Ujian Tengah Semester. Tak ada tempat mengadu. Mau mengeluh dan mengadu ke Mama pun tidak bisa. Mama sedang sakit. Rasanya saya tidak mampu. Keadaan saya tidak menjadi lebih baik. Rasanya ingin berhenti kuliah saja.

 

(Terima kasih, Bu karena sudah membaca tulisan saya. Sebenarnya, saya ingin bercerita ini kepada Dosen PA saya, tapi saya masih takut dan malu. Doakan saya, Bu, semoga segera Allah bantu)

Sebelum memutuskan untuk men-share tulisan mahasiswa ini, saya sudah menanyakan ijinnya. Alhamdulillah diijinkan. Untuk apa? Saya percaya, inspirasi itu ada di sekeliling kita. Sangat dekat. Bahkan diri kita pun menginspirasi. Persoalan mau saja lah. Dengan menyebarkan tulisan ini, saya berharap hanya supaya inspirasi itu meluas. Dan sesama mahasiswa mestilah saling memberi inspirasi. Saling menguatkan mimpi. Because a dream is the powerful vitamin for students.

 

Satu lagi, teman-teman. Saya ingin mengajak teman-teman yang sudah mau membaca tulisan ini, untuk sama-sama menjadi agent penyambung mimpi seorang anak yang terbatasi keadaan. Untuk menawarkan dunia yang berempati, dunia yang peduli untuk mereka yang sedang diambang pintu putus asa. Memberikan bantuan berupa materi, memang tak menyelesaikan masalahnya. Saya hanya ingin, seorang anak tak menyerah pada keadaan dengan pikiran tak ada orang-orang baik yang mau membantu, sekecil apapun itu.

 

Saya sedang menjalankan “Rejeki Penyambung Mimpi” untuk mahasiswa saya ini. Saat ini, dia sedang butuh uang sebesar RP.250.000 untuk membayar uang kos 1 bulan yang seharusnya sudah dibayar tanggal 20 November kemarin. Dan uang untuk membantunya makan sehari-hari, juga uang kos sebulan-dua bulan ke depan. Jumlah yang tidak seberapa untuk segelintir orang. Bukan untuk ‘menyuap’ dan membuatnya berpangku tangan. Bukan. Saya hanya ingin, untuk saat ini, Ia tak berhenti. Tanpa bantuan. Saya hanya ingin, Ia percaya, dengan ‘kejam’nya dunia, dunia masih dihuni orang-orang penuh kasih, peduli dan empati. Setidaknya sampai semester satu ini berakhir, Ia tetap semangat, sambil berusaha mencari kerja sampingan dan berdoa untuk dibukakan pintu bantuan oleh Allah subhanahu wata’ala. Dan in syaa Allah, jalan terbaik itu ada.

                Teman-teman bisa menghubungi saya via DM Instagram, Facebook untuk menyalurkan bantuan. In syaa Allah, saya amanah. Saya pun sudah ngobrol langsung dengan ybs. Dia tak meminta bantuan uang pada saya, ini murni inisiatif saya untuk mengajak teman-teman bisa membantu. Sekali lagi, Saya hanya ingin mengajak teman-teman untuk menjadi bagian dari mimpi seorang anak untuk mengubah nasib menjadi jauh lebih baik.

 

(Yuni Amelia)

Instagram : @uniamel

FB: Yuni Amelia

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *