Yang Masih Terus Belajar

Pernah ada satu waktu di mana saya menemukan diri saya dihindari, bahkan oleh sahabat saya sendiri. Sebut saja Anggrek (soalnya Mawar sudah sering dipakai), sahabat saya sejak lama. Ketika Anggrek sedang mendapat masalah, Ia akan curhat ke (sebut saja, lagi) Kamboja. Anggrek tidak akan pernah mencari saya, apalagi curhat. Pernah, satu sore, kami sedang bertiga waktu itu, saya tahu kalau Anggrek ingin bercerita kepada Kamboja tapi lantas tak jadi karena sedang ada saya saat itu. Atau, di kesempatan-kesempatan lain saya akan mendapati mereka tiba-tiba mengalihkan ke topik lain ketika saya berada di tengah-tengah mereka.

Saya tahu, mereka tidak sedang membicarakan saya. Mereka hanya tidak ingin saya tahu tentang masalah si Anggrek, dan sudah bisa ditebak karena saya hanya akan menghakimi si Anggrek, dengan mengatakan “saya kan sudah bilang sejak awal, benar kan kata saya, sudahlah jangan terlalu melebih-lebihkan masalah”

Ya, saya, lebih dari lima tahun lalu adalah orang yang nyaris tidak punya empati. Saya adalah orang yang merasa “saya sudah tahu akan jadi begini, makanya dengarkan saya sejak awal”. “saya tidak akan selebay itu hanya karena masalah itu”, “kalau saya di posisimu, masalah itu tidak akan membuatku jatuh seperti jatuhmu saat ini”. “sudahlah masalahmu tak seberapa, kok. Biasa saja”.  Saya adalah penambah masalah dan tekanan ketika orang lain menceritakan masalahnya kepada saya. Sangat wajar saya dihindari, dan dijauhi.

Tahun-tahun lalu, saya dengan sangat sadar tahu sedang dijauhi karena ke-nyaris-tidak-adanya rasa empati, tapi tak lantas membuat saya paham dengan apa yang saya lakukan. Saya tetap dengan pendirian saya, “Yaaa, saya memang begini. Saya tidak akan membiarkanmu mengiyakan kesalahanmu dan mendukung kelebay-anmu. “ Betapa tidak berilmu dan berperasaannya saya ketika itu.

Qadarullah, Allah membuat saya terus belajar di perjalanan hidup saya. Sahabat saya sejak SMA, dituntun oleh pilihan hidup dan takdirnya menjadi seorang psikolog. Saya sering mendengar kisah-kisah pasiennya. Segala kisah tentang kehidupan. Saya belajar, belajar, belajar dari pengalamannya bersama pasien-pasiennya. Bahwa kisah yang serupa banyak di sekeliling saya. Sampai, Allah pertemukan saya dengan seorang perempuan luar biasa kuatnya menghadapi cobaan dalam hidupnya. Malam itu, sejak jam 9 hingga jam 2 shubuh, Ia menangis, berbagi beban berat di pundaknya kepada saya. Malam itu, karenanya, ruang di hati saya bertambah sekian lapangnya untuk mau belajar menjadi pendengar. Berempati.

Hingga sekarang, sekian berjalannya saya, makin Allah pertemukan dengan mereka-mereka yang lain yang mengajarkan banyak hal. Saya tidak sedang mengatakan saya tak lagi dihindari, hanya saja saya tak lagi mau menghakimi. Saya bertemu mereka yang membutuhkan kasih, dan cinta dari orang-orang lain karena merasa tak mendapatkannya. Mereka butuh dukungan tapi hanya mendapat penghakiman. Segala hal yang sudah Allah perlihatkan, orang-orang yang dengan ikhlas dan terbukanya berbagi masalah-masalahnya, semakin membuka mata saya, bahwa jiwa kita sangat butuh untuk dipeluk. Bahwa ada yang perlu kita benahi dalam diri kita sendiri. Ia iman, Ia kasih, Ia sayang, Ia cinta, Ia pengakuan, Ia penerimaan, Ia kesyukuran, Ia yang lain yang masih banyak lagi. Ia yang memang dipengaruhi oleh sekeliling kita, tapi kuncinya ada dalam diri sendiri.

Ah, terlalu panjang untuk menuliskannya. Saya masih sangat miskin ilmu. Semoga Allah terus menuntun saya untuk selalu belajar dari kehidupan. Sebelum usai semuanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *