Kau Yang Pernah Terluka,

Bullying. Perundungan. Berapa banyak dari kita yang pernah mengalaminya? Atau bahkan menjadi pelakunya?

Bullying, menurut ahli, adalah salah satu bentuk dari perilaku agresi dengan kekuatan yang dominan secara berulang-ulang dengan tujuan mengganggu orang lain yang lebih lemah. Dikatakan bullying jika seseorang atau sekelompok orang mengganggu atau mengancam keselamatan dan kesehatan seseorang baik secara fisik maupun mental, mengancam penerimaan sosial seseorang yang dilakukan secara terus-menerus. Seseorang yang melakukan bullying dapat melakukan hal seperti; memukul, menendang, mengejek, menggoda, menghina, pelecehan verbal juga mengancam hingga tindakan yang menjurus pelecehan seksual, secara berulang-ulang.

Bullying memang bukanlah fenomena baru di dunia maupun di Indonesia. Telah banyak sekali kasus bullying yang terungkap di media. Masih banyak lagi yang belum terungkap dan sedihnya, ada di sekitar kita. Pada banyak kasus, bullying terjadi dalam dunia pendidikan dan bahkan mulai dari level sekolah dasar. Dari data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), jumlah laporan anak yang menjadi korban kekerasan di sekolah sepanjang tahun 2015 mencapai 147 kasus. Bullying masih menjadi masalah di hampir setiap sekolah di Indonesia.

Lantas, pertanyaannya, mengapa seorang anak rentan menjadi korban bullying teman/ kelompok temannya? Alzena Masykouri, Mpsi, Psikolog anak dan remaja mengungkapkan, anak pendiam karena merasa tertekan sangat rentan mendapatkan bullying. Sebab, pada dasarnya, pelaku bullying akan menekan individu lain yang terlihat dan dianggap lebih lemah. Apalagi jika korban bullying tidak memiliki kemampuan dan kesempatan untuk mengutarakan apa yang terjadi kepada orangtuanya dan memilih diam, maka tindakan bullying yang dialami bisa terus menerus terjadi tanpa ada kemampuan anak korban bullying untuk menghentikannya.

Bullying yang diterima seorang anak dapat membawa pengaruh buruk terhadap kesehatan fisik maupun mentalnya. Pada kasus berat, bahkan, bullying dapat menjadi pemicu tindakan yang fatal, seperti bunuh diri.

Anak-anak yang menjadi korban bullying sangat lebih beresiko mengalami berbagai masalah kesehatan, secara fisik maupun mental.  Tidak cukup dipukuli, diejek, diremehkan, dikucilkan, anak-anak korban bullying harus menanggung beban gangguan kesehatan fisik dan mental. Ketika seorang anak merasa tertekan dengan aksi bullying yang ia terima, ketika ini terjadi, maka otot-ototnya akan menegang, jantung berdebar kencang, dan tubuh melepaskan adrenalin dan kortisol. Seiring waktu, reaksi inilah yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Anak korban bullying tiga kali lipat berpeluang untuk menderita sakit kepala, sulit tidur, sakit perut, serta dua kali lebih mungkin untuk memiliki nafsu makan rendah.  Bullying pun dapat mengakibatkan korbannya mengalami kecemasan (anxiety), sakit punggung, mudah marah, bahkan depresi.  Anak juga akan mengalami penurunan semangat belajar dan prestasi akademis serta rasa tidak aman saat berada di lingkungan sekolah. Dalam jangka panjang, bullying dapat merusak kepercayaan dan harga diri anak.

Penelitian NICHD (National Institute of Child Health and Human Development) menunjukkan, anak korban bullying berada pada risiko yang lebih tinggi dan lebih mungkin untuk terganggu jiwanya dan ketika dewasa membutuhkan penanganan intensif dibanding anak yang tidak menjadi korban bullying.  Banyak penelitian telah mendokumentasikan tingkat gangguan kecemasan yang tinggi dan kepanikan akan dialami oleh korban bullying. Pengalaman bullying pada masa kecil akan semakin terkait dengan kesehatan mental dan masalah perilaku di kemudian hari. Bahkan, dampak bullying akan mempengaruhi urusan kerja hingga hubungan sosial di masyarakat.

“Kuatnya rasa sakit emosional akibat intimidasi, dan fakta bahwa betapa sakitnya diremehkan orang lain menciptakan pengalaman yang sangat traumatis yang bisa meninggalkan luka emosional yang signifikan,”Ungkap Psikolog Guy Winch. Kerusakan emosional ini memiliki konsekuensi yang sama menyakitkannya. Beberapa penelitian mengenai otak telah menunjukkan bahwa rasa ditolak yang disebabkan oleh bullying mengaktifkan jalur yang sama di otak yang terkait dengan rasa sakit pada tubuh.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana mengatasi trauma dan luka masa lalu akibat bullying. Tentu tak bisa kembali ke masa-masa sakit itu dan mengubahnya, lantas tak terjadi apa-apa. Yang bisa dilakukan adalah, menerima kejadian ketika bullying tak dapat diubah, lalu mengembangkan mekanisme coping yang tepat.

Untuk mengelola efek negatif bullying, menurut Winch ada empat hal yang dapat membantu korban bullying, yaitu ; (1) Membantu menghidupkan kembali harga diri mereka terhadap rasa malu dan membenci diri sendiri, (2) Menyembuhkan rasa sakit emosional yang berat, (3) Mengelola luapan amarah dan agresi yang mereka rasakan terhadap orang lain dan diri sendiri, dan (4) Mengembalikan rasa memiliki untuk memperkuat perasaan diterima dan dicintai.

Korban bullying yang bisa menerima dan tabah, cenderung melakukan penyembuhan secara alami. Teman dekat, dukungan emosional dari teman-teman dekat tersebut akan mengingatkan diri bahwa mereka diterima dan dicintai. Sedang, strategi seperti ini akan lebih sulit digunakan ketika korban bullying justru mengisolasi diri sebagai cara untuk melindungi diri dari terulangnya rasa sakit ketika di-bully. Mereka secara tak sadar, sedang meninggalkan luka psikis dan akan semakin meningkatkan perasaan terisolasinya. Kelompok anak seperti inilah yang memungkinkan bermasalah psikologis berkepanjangan.

Di sinilah peran lingkungan terdekat, individu maupun kelompok yang peduli dengan kesehatan mental sangat diharapkan bisa membentuk support system untuk membantu korban bullying. Lingkungan terdekat diharapkan mampu dan mau mendengarkan emosi yang sekian lama dipendam. Mendengarkan tanpa menghakimi, tapi memahami. Membuat korban bullying tak merasa sendiri dan tak lagi selamanya sebagai korban. Dukungan keluarga dan sahabat akan sangat membantu meraih harga dirinya kembali. Pendampingan psikiater serta psikolog pun akan menolongnya tidak berlarut-larut terpuruk dengan luka batinnya. Bahwa luka masa lalu yang berdampak ke psikisnya hingga dewasa perlu ditangani dan diobati. Pernah di-bully lantas tak akan menjadikan dirinya selamanya korban, terus-terusan rendah diri yang berlebihan, apalagi sampai kehilangan harga diri sebagai individu yang sesungguhnya berpotensi untuk maju dan hidup bahagia. Mari menyediakan ruang bagi mereka yang pernah terluka karena bullying untuk bisa terbuka, berbagi perasaannya. Mari mendengarkan, mengambil peran dalam membantu seseorang untuk melanjutkan hidupnya dengan perasaan berdamai dan tentunya, bahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *