Wait! Is That A Joke?

Beberapa hari lalu, di grup whatsapp teman jaman SMA, salah seorang teman saya mengirim satu foto. Sayangnya, foto tersebut bukan hal  yang layak dan patut untuk dilihat, kecuali oleh segelintir orang yang menganggapnya biasa saja. Bahkan si pengirim dan satu teman saya lainnya terang-terangan mengirim emoticon tertawa dan menganggapnya sebagai bahan bercandaan.

Dan foto tersebut ( maaf- perempuan yang kelihatannya sedang duduk dan memilih apel, dan bagian bawahnya kelihatan, entah benar atau editan, dengan caption “Saya jual apel, siapa yang minat?” Sementara ybs memang tidak sedang menjual apel ) bukan yang pertama kalinya dikirim oleh ybs. Sebelumnyapun, beberapa minggu sebelumnya ybs mengirim candaan foto dan video serupa. I just can’t understand it. He is a father. He has a wife. He has kids. And he thinks it’s a normal thing to do, and it’s JUST A JOKE! Dirty jokes for some people are really a joke. Hufh.

Dirty jokes, sayangnya sering kita jumpai. Tidak hanya pada orang dewasa, remajapun. Ets, tunggu dulu, bukannya terbiasa ketika dewasa, adalah bertahun-tahun terbiasa sebelumnya?

Membercandai hal-hal privasi, menyerempet ke hal-hal porno ataupun seksis, adalah mungkin konsumsi kaum laki-laki saja, bahkan mungkinpun tidak semua laki-laki menyukai dirty jokes. Tapi, lantas mengirimnya di grup kumpul-kumpul teman sejak SMA, yang di dalamnya ada seorang ibu, seorang ayah- yang juga memiliki anak perempuan- dan banyak wanita yang menutupi auratnya,, Hei, kemana penghargaannya? Tidakkah terpikirkan oleh para dirty jokers ini  bagaimana jika keluarganya bisa saja menjadi objek dari dirty jokers lainnya? Pak, Seeing women as objects of your dirty jokes is not funny at all.

Satu teman saya, seorang perawat, mengungkapkan kekecewaan dan kekesalannya kepada pengirim foto tsb, dengan bahasa yang sopan. Disusul saya sendiri, dengan hormat menyilahkan ybs untuk membuat grup sendiri jika ingin share hal serupa. Lalu, satu lagi, perempuan juga, menjadi penetral yang mengingatkan ybs untuk menyadari kesalahannya. Dan apa reaksi ybs?  Ia meminta maaf , saling menyalahkan dengan satu orang yang di awal tadi juga ikut tertawa, mencandai lagi beberapa tanggapan kami dan ujung-ujungnya“ Grup ini sudah terlalu serius, sudah ndak sama dengan waktu SMA. Sudah serius semua” (Dude, Please! Tempat main terus itu di TK kan ya?)

Sampai akhirnya ketua kelas (yang sekarang sudah jadi ayah satu anak perempuan) dan beberapa teman cowok lainnya ikut bersuara dengan bijaknya, menegur ybs. Closed. Satu teman akhirnya left dan teman yang lain mengirimi quiz untuk menetralisir suasana. Dan ybs? Diam saja. Tak lagi bersuara. Semoga saja sedang benar-benar menyadari kesalahannya.

Saya tidak sedang menjelekkan ybs. Yang saya garisbawahi adalah sikapnya. Perlakuannya sejak melempar dirty jokes di grup dan tanggapan-tanggapannya. Dan sejak SMA, ybs memang lebih banyak ‘bermain’ nya. Apa yang semakin saya pahami dari satu kejadian yang mungkin kita sering alami sehari-hari ini adalah karakter. Terbentuk sejak bayi bahkan dari dalam kandungan, dalam pengasuhan orangtua , serta lingkungan pergaulan bertahun-tahun tidak akan simsalabim berubah hanya karena seseorang itu sudah menjadi orangtua, menjadi ayah, menjadi ibu. Seseorang tidak akan langsung bisa memahami jika ia tidak pernah mau belajar. Seseorang tidak akan seketika menjadi bijak jika mendengarkan saja ia tak mau. Dan seseorang tidak akan menjadi dewasa hanya karena umurnya bertambah. Banyak hal bukan hanya butuh waktu, tapi kesadaran. Semoga Tuhan  dengan KeMaha-Baikkannya selalu memberikan kita kesadaran untuk belajar.

Dan dirty jokes, yang dianggap biasa oleh segelintir orang adalah, pelecehan seksual terang-terangan, di depan umum dan parahnya pelakunya tidak menyadari apa yang ia lakukan adalah bagian dari melecehkan. Dengan menegur ybs, dengan menulis ini, saya tak mengapa dicap terlalu serius, daripada tidak mau berpikir dan merasakan. Semua ada pertanggungjawabannya kan, nanti?  Mari terus belajar, bersuara, berani menegur orang sekitar yang melemparkan candaan yang seksis, porno dan mengarah ke fisik, bagian tubuh kita. Mari mengusahakan sesuatu yang baik dan sehat, dimulai dari diri sendiri, untuk generasi.

 

Serious

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *