Oh Lisan.

“ Loh, sekarang ga kerja? Di rumah aja jadi ibu rumah tangga? Sayang dong ijazahnya”

“ Baru 3 bulan? Kok udah gede banget perutnya”

“ Umur segitu kok belum nikah? Kebanyakan milih-milih yaa”

 

Dan mungkin masih banyak pertanyaan lain yang si penanya ga sadar or even pun sadar sudah menyakiti perasaan yang ditanya. Banyak dari kita yang mungkin sering mendengar pertanyaan-pertanyaan serupa ini, atau jadi objek penanya atau bahkan justru jadi penanya.

Saya beranggapam, bisa jadi si penanya berpikir dan merasa pertanyaannya biasa-biasa saja, sesuai fakta. Tapi ia lupa, pikiran dan perasaan orang tak semua sama. Si penanya pun mungkin tak sadar, ia menanyakan sesuatu yang telah diikhtiarkan oleh orang lain sebaik-baiknya. Atau si penanya mungkin tak punya hati, sehingga tak bisa memposisikan dirinya jika menerima pertanyaan yang sama.

Salah seorang teman saya, beberapa bulan lalu mengungkapkan rasa bahagianya ketika hamil sekitar dua atau tiga bulan dengan mengupload foto hamilnya. Sangat terlihat bahagia. Dan kebahagiaan itu diganggu dengan komentar, “ tiga bulan? Kok udah besar gitu?” Pertanyaan itu bukan hanya dari satu komentar, beberapa. Yaa Allah, tidak berada di posisi teman saya, bukan berarti saya tidak bisa memahami perasaannya membaca komentar-komentar ‘tak penting’ itu.  Ketika kita bahagia dengan satu hal, lalu orang lain tiba-tiba merusaknya. Apalagi sepemahaman saya yang terbatas, ibu hamil lebih sensitive, emosinya tidak stabil. Tidak bisa kah kita cukup ikut berbahagia juga? Memberinya selamat dan doa saja? Kalaupun kita merasa ada yang tidak biasa, simpan saja, toh pertanyaan-pertanyaan seperti itu apa manfaatnya? Belum tentu benar dugaan kita, tapi sudah tentu menyakiti perasaan objek tanya.

Balasan teman saya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu masya Allah, ia ungkapkan dengan sabar. “Oh iya, bawaan badan ibunya”. Sampai, qadarullah, ia dan suami harus merelakan anak yang dikandungnya pergi di bulan kelima. Ia sedih luar biasa. Berbaris-baris kalimat dalam postingannya yang menceritakan bagaimana cintanya ia perjuangkan, anaknya yang tumbuh bersama miom, ia usahakan yang terbaik dengan dokter terbaik, penjagaan luar biasa, doa-doa yang dilangitkan mengalahkan rasa sakit fisik dan mungkin hatinya sebagai seorang perempuan, seorang ibu. Pertanyaan-pertanyaan ‘nyinyir’ pun terjawab. Dengan sangat sabar dan stabil kalimat-kalimatnya menjelaskan tiap sakit, tiap usaha, tiap sabar dari suami, keluarga, dirinya dan Allah sebagai jawaban “kok udah gede gitu perutnya?” Semoga Allah berikan ganjaran terbaik untuk sabarnya.

See? Sebelum bertanya, mari kita berpikir berkali-kali, apakah pertanyaan kita perlu? Apakah pertanyaan kita benar? Apakah kata-katanya tidak menyakitkan? Kalau ketiga jawabannya tidak-tidak-ya. Maka, tahan lidah kita. Lisan kita mungkin memang tak untuk senangkan semua telinga, tapi juga bukan untuk menyakiti hati lainnya. Marilah, jadi orang baik yang terjaga lisannya.

Dari Abu Musa, beliau berkata: “Wahai Rasulullah siapakah muslim yang paling baik?” Beliau menjawab, “Muslim yang paling baik adalah muslim yang selamat muslim lainnya dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

 

2c0b97ee8343f1d670432f8a3cc7b55f--proverbs--words-hurt

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *